Kemenkes: 3,3 Juta Lansia Berisiko Abu Krakatau
Berita Maluku Terbaru Berita Maluku Terkini Jakarta (MataMaluku) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut sekitar 3,3 juta lansia berisiko terdampak abu erupsi Anak Krakatau. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lansia termasuk kelompok rentan terhadap gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika yang tajam dapat membahayakan paru-paru, mata, dan kulit. “Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika tajam membuatnya berbahaya bagi paru-paru, mata, dan kulit,” kata Imran di Jakarta, Senin. Menurut Imran, abu vulkanik yang bercampur dengan air dapat mengeras seperti semen. Karena itu, cara membersihkan abu harus dilakukan dengan benar agar tidak menimbulkan risiko kesehatan maupun kerusakan pada permukaan benda. Lansia Rentan Terdampak Abu Vulkanik Paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai gangguan kesehatan pada lansia. Beberapa di antaranya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sesak napas, serta memburuknya asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Risiko gangguan kardiovaskular juga dapat meningkat. Paparan abu dapat memicu kenaikan tekanan darah dan meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke, terutama pada lansia dengan penyakit penyerta. Partikel abu yang sangat halus dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Kondisi tersebut berpotensi memicu peradangan dan memperburuk penyakit kronis yang sudah dialami lansia. Selain gangguan pernapasan, abu vulkanik dapat menyebabkan mata perih, berair, dan mudah mengalami iritasi. Kulit juga dapat mengalami gatal serta peradangan. Paparan berkepanjangan juga berpotensi memengaruhi kondisi psikologis lansia. Kebingungan, penurunan konsentrasi, stres, hingga depresi dapat muncul, terutama akibat proses evakuasi mendadak dan isolasi sosial. “Trauma evakuasi mendadak dan isolasi sosial menambah beban psikologis berupa stres dan depresi,” ujar Imran. Mitigasi untuk Lansia Imran mengatakan mitigasi dampak erupsi Anak Krakatau perlu dilakukan secara menyeluruh. Masyarakat di wilayah terdampak disarankan menggunakan masker N95 atau KN95 dan kacamata pelindung. Warga juga perlu menutup celah rumah untuk mencegah abu masuk. Saat membersihkan abu, permukaan sebaiknya dibasahi terlebih dahulu agar partikel tidak mudah beterbangan dan terhirup. Keluarga dan caregiver juga diminta memastikan persediaan obat rutin lansia tetap tersedia. Kondisi kesehatan lansia perlu dipantau, terutama jika muncul tanda-tanda gangguan pernapasan atau masalah kesehatan lainnya. Fasilitas kesehatan di wilayah terdampak juga perlu menyiapkan kebutuhan medis. Di antaranya oksigen konsentrator, obat ISPA, salep kulit, dan obat tetes mata. Tenaga kesehatan juga perlu disiagakan untuk menghadapi kemungkinan evakuasi darurat. Imran menegaskan, proses membersihkan abu vulkanik di rumah harus dilakukan secara hati-hati. Abu vulkanik mengandung partikel silika yang tajam dan bersifat asam. Jika ditangani secara tidak tepat, abu dapat merusak lantai, kaca, dan kendaraan. Di sisi lain, partikel abu yang beterbangan juga dapat meningkatkan risiko gangguan pada paru-paru. Karena itu, kewaspadaan masyarakat dan perlindungan terhadap kelompok rentan, termasuk lansia, menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak erupsi Anak Krakatau.